Home / tv / Warga Kini Dapat Sewa “Layar Tancap” dengan Harga Sampai Rp1 Juta

Warga Kini Dapat Sewa “Layar Tancap” dengan Harga Sampai Rp1 Juta


J


AKARTA, BeraniUsaha.com

Komunitas Operator Film (Operfi) menghadirkan layanan sewa layar lepas untuk publik yang berencana mengadakan suatu acara.

Soleh (53), seorang anggota komunitas Opera di Indonesia, menyebutkan bahwa biaya penyewaan layar mendadak beragam.

“Iya boleh disewakan untuk acara seperti pernikahan atau ultah. Nanti juga akan dipakai untuk berbagai keperluan acara keluarga,” jelas Soleh ketika ditemui di Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada Rabu (9/4/2025).

Penyewa jasa layar tancap memiliki kebebasan dalam memilih lokasi untuk pemutaran film. Akan tetapi, mereka diwajibkan untuk mendapatkan persetujuan terlebih dulu dari pemerintah lokal setempat.

Soleh dan timnya hanya berkewajiban mengatur peralatan serta memutarkan film yang sudah disewa oleh penumpang.

Biaya satu kali pemutarannya dihargai antara Rp800.000 sampai dengan Rp1 juta. Harga tersebut dapat berubah bergantung pada judul film yang dipilih oleh klien.

Harga tersebut ditentukan oleh Soleh bersama tim mempertimbangkan beberapa faktor. Misalnya, jarak dari lokasi pemutaran film, biaya transportasi peralatan, jumlah bahan bakar yang digunakan, serta tarif penyewaan reel film yang cukup tinggi.

Pada zaman digital seperti sekarang, mencari film dengan format gulungan pita seluloid memang menjadi hal yang langka. Oleh karena itu, jumlah film yang disediakan Soleh untuk diproyeksikan di layar tancap pun terbatas.

“Peranannya di sini, kami memiliki layanan sewa. Kami punya tempat di Krukut bernama Adi Pamilis, yang menyewakan peralatan tersebut. Selanjutnya di Cang Ian juga tersedia, di Benda Baru, Pamulang. Dan ada pula di Bojongsari,” jelasnya.

Soleh mengatakan bahwa film berbentuk pita seluloid cenderung mempunyai kualitas pencahayaan yang lebih unggul daripada film digital.

“Meskipun film saat ini sudah beresolusi 1080p, pencahayaannya masihkurang,” katanya.

Umumnya, sewa sebuah film dari Indonesia, Amerika, Tiongkok, atau Korea berbiaya antaraRp300.000 sampai dengan Rp400.000.

Sementara itu, film India yang menjadi kesukaan pengunjung layar tancap dibanderol dengan harga sewa sedikit lebih mahal, yaitu di kisaran Rp500.000 hingga Rp600.000.

“Jika bicara tentang jumlah judul di Indonesia, mungkin sekitar 300 hingga 400 untuk setiap jenisnya. Kecuali India, mereka memiliki lebih dari 500 judul. Sedangkan untuk barat dan mandarin, jumlahnya mirip dengan Indonesia. Begitu pula seperti halnya film-film Korea pada masa lalu,” jelasnya.

Reel film tersebut kemudian akan dimasukkan ke dalam perangkat yang disebut proyektor. Perangkat ini umumnya dipakai di teater bioskop zaman dahulu.

Sebagian anggota Opera membawa peralatan tersebut, salah satunya adalah Soleh. Ia telah mengantongi sebuah proyektor film sejak tahun 2001.

Tidak ada tindakan khusus dilakukan terhadap mesin lama tersebut. Kadang-kadang, proyektornya cukup dibersihkan dan diolesi minyak supaya dapat memutar reel-film dengan lancar.

Demikian juga dengan rollem film. Rollem film dapat digunakan selama periode waktu yang cukup panjang.

“Rekaan film dapat digunakan berulang kali. Bahkan jika robek pun masih bisa ditempel menggunakan lem,” jelasnya.

Akan tetapi, usaha layar tancap ini belum memberikan hasil yang optimal untuk Soleh. Sebab, pelayanan tersebut hanya diusulkan dan diperkenalkan melalui rujukan antara keluarga atau teman satu dengan lainnya.

Tidak ada strategi pemasaran tertentu yang dijalankan untuk memperluas jangkauan pasarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *