BeraniUsaha.com
Pernahkah Anda merasa dipermainkan oleh orang lain? Sepertinya mereka mengetahui bagaimana caranya membuat Anda merasa bersalah, bingung, atau mungkin hilang arah. Jika demikian, kemungkinan besar Anda sedang menghadapi manipulasi emosional.
Permasalahannya adalah bahwa manipulasi tersebut kerap kali muncul dengan cara yang halus, tak terlihat, dan disertai penampilan seperti mereka memperdulikanmu. Namun kenyataanya, mereka justru berusaha untuk mengeksploitasi pemikiran serta perilaku mu demi mendapatkan keuntungan bagi diri mereka sendiri.
Berdasarkan artikel di Psychcentral, berikut adalah 14 jenis manipulasi dalam psikologi yang dapat membantu Anda menjadi lebih hati-hati serta memahami bagaimana menghadapi situasi tersebut.
1. Teknik Membuat Rasa Bersalah: Cara ini melibatkan upaya memunculkan rasa bersalah dalam diri Anda meski sebetulnya Anda tak melakukan kesalahan apa pun. Orang yang menggunakan teknik ini biasanya bakal menyebut-nyebut perbuatan atau kegagalan Anda agar Anda merasa bersalah dan mau patuh pada mereka. Sebagai contoh, “Sudah banyak aku korbankan demi kamu, namun justru kamu bertindak seperti itu.”
2. Gaslighting: Salah satu yang sangat berbahaya ini. Menurut Verywell Mind, si pelaku membuat Anda ragu tentang kenyataan dan memori Anda sendiri. Misalnya: Anda yakin bahwa mereka telah mengucapkan kata-kata yang menyinggung hati, tetapi mereka malahan menjawab, “Saya tidak pernah berkata seperti itu, mungkin Anda saja yang membayangkan semuanya.” Seiring waktu, hal tersebut bisa membuat Anda kebingungan dan mulai meragukan identitas serta pengalaman Anda sendiri.
3. Cinta Ledekan: Mendadak ia menjadi sangat peduli, manis, serta penuh kasih sayang. Anda terasa diperlakukan dengan istimewa. Namun, semuanya hanyalah perangkap awal untuk menciptakan ketergantungan emosi. Setelah Anda merasa “tersandera,” dia mulai mempengaruhi kontrolnya secara bertahap atas Anda.
4. Sikap Dingin: Bentuk hukuman tanpa kata-kata ini bisa membuatmu sangat cemas. Orang tersebut sengaja menghindari berbicara atau memberi respons padamu selama periode tertentu. Alasannya adalah agar kamu merasa bersalah dan menjadi orang pertama yang meminta maaf, walaupun sebenarnya kamu tidak melakukan kesalahan apa-apa.
5. Menjulang Korban: Di tengah perselisihan, mereka cenderung menjadikan dirinya sebagai pihak yang tertindas. Mereka dapat membentuk kembali narasi sehingga tampak seolah-olah Anda adalah seseorang dengan niat buruk. Hal ini membuat Anda berperan pasif dan sering kali menyerah berkali-kali.
6. Perilaku Pasif-Agresif: Orang tersebut tidak secara terbuka mengungkapkan kekesalan mereka, tetapi malah menggunakan sindiran atau tindakan-tindakan yang membuatmu merasa bersalah. Misalnya: “Ya sudahlah, terserah saja kau… Aku hanya ikut-ikutan, meskipun jelas-jelas ini sedang menyakitiku.”
7. Triangulasi: Kecurangan ini mencakup pengecekan dengan pihak lain sehingga Anda merasa kurang memadai. Sebagai contoh, mereka mungkin berkata, “Pasangan lalu hidup saya lebih pemaham dibanding anda,” atau “Rekan sebaya saya tak akan bertindak seperti diri Anda.” Sasaran utamanya adalah agar Anda merasakan persaingan dan bekerja ekstra keras demi kepuasan mereka.
8. Pemindahan Tanggung Jawab: Sama seperti apa pun kesalahan terjadi, kambing hitam-nya selalu kamu. Meskipun jelas-jelas mereka sendiri yang keliru, mereka akan mengubah kebenaran sehingga membuatmu merasa segala sesuatunya berawal dari dirimu.
9. Penundaan: Mereka menyimpan rasa cinta, penghargaan, dan bahkan informasi krusial sebagai metode hukuman atau kontrol atas Anda. Misalnya saja ketika mereka secara tiba-tiba menjadi sangat tidak peduli saat Anda membutuhkan dukungan emosional.
10. Balikan Gaslighting: Cara ini lebih licin. Saat Anda berusaha mengindikasikan bahwa mereka sedang menggunakan taktik gaslighting, justru diri mereka sendiri yang menyebut Anda sebagai pelaku gaslighting. Hal itu dapat membawa rasa bersalah kepada Anda dengan intensitas ganda dan semakin membingunkan pikiran Anda.
11. Proyeksi: Mereka mengatakan bahwa Anda melakukannya padahal itu adalah perilaku mereka sendiri. Sebagai contoh: mereka berkhianat, tetapi justru mencurigai Anda sebagai pihak yang pertama berselingkuh.
12. Kelebihan Informasi: Ketika Anda berusaha mendapatkan pembenaran yang jelas, mereka malah memberikan penjelasan kompleks, bertele-tele, dan membingungkan. Hal ini dilakukan untuk membuat Anda pusing tujuh keliling dan hilang arah sehingga lupa tentang pokok permasalahan sebenarnya.
13. Pengalihan: Mereka menyelewengkan pembicaraan ke topik lain atau mendiskusikan sesuatu yang berbeda agar Anda tidak dapat menyentuh pada inti kesalahan atau permasalahan yang sebenarnya sedang menjadi pertanyaan Anda.
14. Berbohong: Melakukan dusta dengan jelas atau menutupi informasi vital untuk mempertahankan imej mereka dan masih dapat menguasai situasi. Terkadang mereka memberitahu separuh kebenaran sehingga Anda tetap percaya, namun tetap tertipu oleh manipulasinya.
Memahami jenis-jenis manipulasi ini tidak berarti membuat kita menjadi parno pada setiap orang, lho. Namun, sangatlah penting untuk mengenalinya agar kita bisa menyadari saat sedang dimain-mainkan secara emosional dan kapan perlu menetapkan batasan.
Manipulasi emosional adalah masalah serius yang tidak boleh diabaikan karena dapat merusak kesehatan mental secara bertahap. Jika situasinya sudah tak tertoleransi lagi, jangan segan-segan untuk berkomunikasi, mencari dukungan, atau bahkan mengambil langkah mundur dari hubungan tersebut apabila telah menjadi racun.
Anda layak ada di lingkungan yang menyehatkan, mendukung, dan saling menghormati. Oleh karena itu, mari dari sekarang, lebih percayalah pada intuisi Anda dan jangan ragu untuk berkata: “Saya tidak merasa nyaman dengan perlakuan seperti ini.”


