Home / social issues / Ini 13 Kebiasaan Merusak yang Perlu Dihindari, Kata Para Psikolog

Ini 13 Kebiasaan Merusak yang Perlu Dihindari, Kata Para Psikolog


BeraniUsaha.com

– Melalui penipuan terhadap pihak lain bisa merusak keyakinan yang susah untuk dipulihkan lagi, tetapi apa jadinya kalau tipu muslihat tersebut tertuju pada diri kita sendiri?

Psikolog menegaskan bahwa kurangnya kejujuran terhadap diri sendiri dapat memiliki konsekuensi merugikan seperti menciderai rasa percaya diri, mencegah perkembangan individu, serta mempersulit interaksi sosial dengan lingkungan sekitar.

Berdasarkan informasi dari Parade.com pada hari Sabtu (12/4), daftar di bawah ini mencakup 13 pernyataan keliru yang sering kali kita ungkapkan kepada diri sendiri. Meskipun demikian, hal-hal itu justru cenderung membawa dampak negatif dibandingkan manfaatnya. Akan tetapi, ada kalanya klaim-klaim tersebut juga dapat menghasilkan efek baik yang tidak disangka-sangka.


1. “Saya merasa senang apabila sudah bisa menyelesaikan…”

Pernyataan tersebut terdapat jebakannya sebab menjejaki kebahagiaan pada prestasi tertentu yang kerap kali ada di luar kontrol kita.

Menurut Dr. Joel Frank dari Duality Psychological Services, pemikiran serupa dapat menghasilkan perasaan tidak puas yang berkelanjutan karena kegembiraan senantiasa dirasakan sebagai hal yang belum tiba waktunya.

Meski tujuannya telah dicapai, kesedihan dapat timbul sebab kita cenderung selalu menginginkan “sesuatu yang lain” tanpa sempat merasakan kebahagiaan dari saat ini.


2. “Saya adalah orang tunggal yang mengalami perasaan begini.”

Klaim tersebut cukup luas dan sungguh-sungguh membahayakan. Menurut seorang pakar psikologi bersertifikat bernama Dr. Craig Kain, pernyataan palsu itu menghasilkan kesalahpahaman bahwa kita merasa terisolasi dalam pertempuran emosional masing-masing. Namun, berdasarkan pengalamannya menangani bermacam kasus klien, dia melihat bahwa jarang sekali ada emosi ataupun situasi hidup yang benar-benar tanpa paralel.

Merasa “unik” dapat memicu perasaan minder dan kesepian; meskipun demikian, banyak individu lain juga merasakan hal yang sama.


3. “Jika mereka mengetahui kebenaran mengenai diriku…”

Ide-ide ini umumnya muncul karena ketakutan ditinggalkan. Kami cemas bahwa apabila orang lain mengetahui identitas sejati kita, mereka akan meninggalkan kita.

Menurut Dr. Kain, hubungan yang sehat malah diciptakan oleh ketulusan dalam membuka diri, mengakui kelemahan pribadi, serta mempercayai bahwa pasangan yang sesuai akan tetap bertahan.


4. “Saya tidak pantas untuk mencapai cinta dan kebahagiaan.”

Perkataan ini sering keluar dari mulut orang-orang yang memiliki rasa percaya diri rendah. Menurut penjelasan Dr. Frank, pemikiran tersebut dapat mengakibatkan tindakan merusak pada aspek-aspek kehidupan mereka serta dalam hal penghargaan terhadap diri sendiri.

Orang-orang yang percaya pada hal itu biasanya menghindari peluang untuk merasakan kegembiraan dan kasih sayang, sebab mereka merasa tidak layak menerima keduanya.


5. “Setiap orang telah mengetahui tentang tugas masing-masing—selain saya.”

Sosmed ternyata merupakan tempat ideal bagi banyak orang untuk saling menanding-menandingkan kehidupannya sendiri dengan orang lain. Akan tetapi, sesuai dengan apa yang diungkap oleh seorang psikolog serta konsultan dari Hope for Depression Research Foundation, Dr. Ernesto Lira de la Rosa, hal-hal yang bisa dilihat publik hanya puncak gunung es atau bagian terbaik saja dari kehidupan seseorang, tidak mencerminkan seluruh realitasnya.

Banyak individu berjuang melawan ketidaktentuan, tetapi mereka memilih untuk tidak menyatakannya.


6. “Pengalaman yang saya miliki tak seberapa, sehingga sebenarnya tak ada alasan untuk bersedihan.”

Sering kali kita merendahkan perasaan dan pengalaman diri sendiri dengan berpikir bahwa masih ada orang yang menghadapi masalah jauh lebih serius. Tetapi menurut Dr. Kain, perasaan itu tetap sah apa adanya, tak tergantung pada besarnya atau kecilnya situasi yang memicunya.

Trauma tidak melulu soal lomba siapa yang lebih menderita, dan tiap individu pantas mendapat simpati mereka sendiri.


7. “Hal ini tak bakal berhenti.”

Ketika kita menghadapi situasi yang serba sulit, terkadang tampak tak ada jalannya keluar. Tetapi Dr. Kain merekomendasikan agar melihat kembali pada waktu lampau dan mencari bukti bahwa kita telah bertahan dari kesulitan di masa lalu. Pengenalan akan hal tersebut dapat memberikan pengingat bahwa gelombang buruk niscaya akan mereda.


8. “Saya perlu terus-menerus mengucapkan rasa syukur.”

Berterima kasih memang penting, namun tak perlu selalu dilakukan secara konstan. Kadang-kadang, kehidupan bisa sangat sulit, dan menerima kenyataan tersebut merupakan wujud jujur yang dapat membantu penyembuhan. Sebagaimana halnya ini dimaksudkan.

Dr. Kain, menyikapi rasa syukur dengan paksa dapat menimbulkan beban emosi tambahan yang tak diperlukan.


9. “Tak seorang pun dapat memahami diri saya.”

Ini dapat menyebabkan kita mengisolasi diri dari lingkaran sosial. Salah satu keperluan utama bagi manusia adalah rasa dipahami. Saat kita menjauh, kita juga menolak peluang untuk memperoleh bantuan yang amat dibutuhkan.


10. “Jika aku mengacuhkannya, permasalahan tersebut akan lenyap.”

Mengelakkan masalah tampaknya lebih sederhana, namun hanya menghasilkan kenyamanan sebentar saja. Permasalahan yang belum terselesaikan bakal semakin membesar.

Dr. Lira de la Rosa mementaskan bahwa mengatasi tantangan, walaupun bertahap dan perlahan, sangat krusial. Melakukan kemajuan meskipun hanya sedikit adalah pilihan yang lebih baik dibandingkan biarkan perkara tersebut berkembang tanpa ada tindakan.


11. “Saya tidak berniat seperti itu, jadi segalanya tetap oke.”

Kejadian tidak disenggarakan bukan berarti tak memiliki konsekuensinya. Menurut Dr. Brandy Smith, seorang psikolog bersertifikat dari Thriveworks, sangat penting bagi kita untuk mempertahankan tanggung jawab terhadap perbuatan masing-masing walaupun dengan niat yang baik.

Menyepelekan akibat dari tindakan diri sendiri dapat menghasilkan ketidakpedulian serta penolakan akan saran atau kritik.


12. “Sudah kucoba segalanya sebisaku.”

Terlebih dahulu hal itu memang tepat, dan kita perlu mengajarkan diri sendiri untuk bersikap baik. Tetapi pada kesempatan lain, ini mungkin hanya alasan untuk menyerah tanpa usaha lebih lanjut.

Refleksi yang tulus—beserta kadang-kadang dukungan dari orang luar—dapat memungkinkan kita untuk menyadarinya jika sesungguhnya kita masih mampu berbuat sedikit lebih lagi.


13. “Terlalu lambat untuk mulai.”

Banyak individu percaya mereka kehilangan peluang semata-mata akibat faktor umur atau durasi waktu. Namun, sesuai dengan pandangan Dr. Lira de la Rosa, tak pernah ada istilah telat bagi seseorang yang ingin menjajaki hal-hal baru, meningkatkan ikatan interpersonal, ataupun memulai kembali dari awal. Hanya ketidakyakinan kami sendiri tentang kemustahilan suatu situasi yang sebenarnya menjadi penghambat utama.

Dengan mengetahui dan kemudian memulai untuk menjauhi berbagai pembohongannya sering kali kita sampaikan kepada diri sendiri, maka akan terbukanya pintu menuju hidup yang lebih tulus, baik, serta bermakna.

Yang paling penting, kita belajar bagaimana cara membahagiakan diri sendiri dengan lebih baik, merupakan tahap krusial menuju kehidupan yang lebih harmonis dan lengkap. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *