BeraniUsaha.com
– Salah satu kewajiban dalam menyambut hari Jumat ialah penyampaian khutbah oleh pengkhotbir.
Islam menyarankan untuk menyampaiakan khutbah dengan durasi yang singkat agar jemaah tetap tertarik dan tidak merasa bosan.
Berikut adalah sekedar informasi bahwa anjuran memberikan khotbah dengan singkat tertuang dalam hadis yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad seperti berikut.
Dari Ammar bin Yasir dia berkata bahwa ia pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh panjangnya waktu shalat seorang laki-laki dan singkatnya khutbah adalah tanda kefahaman dirinya. Maka panjangkanlah waktu shalatmu dan pendekkanlah khutbamu.” Dia juga menambahkan, “Dan sesungguhnya dari antara hal-hal yang paling mengagumkan adalah pembicaraan ini memiliki daya tarik seperti sihir” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad).
Artinya: “Menurut riwayat dari Ammar bin Yasir, beliau mengatakan: Saya pernah mendengar Rasulullah ﷺ berucap: Sebenarnya lama waktu salat dan cepat selesai nya ceramah oleh seorang khotib merupakan indikasi pemahaman seseorang terhadap agama. Maka diperpanjanglah waktu salat serta dipersingkatlah pembicaraannya; di mana pada pemaparan yang padat terdapat keberhasilan menarik minat orang lain.” (Diriwayatkan oleh Muslim dan Ahmad).
Beragam tema ceramah Jumat ada, tetapi pada kesempatan ini BeraniUsaha.com ingin membahas salah satunya yaitu: Ibadah yang Terjebak Selama Ramadhan
Khutbah I
Syukur kami panjatkan kepada Allah yang telah menciptakan makhluk-Nya untuk beribadah padaNya dan memerintahkan mereka agar menyembah hanya satu Tuhan saja serta mentaati perintahnya. Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah sendiri tanpa partner, dan saya juga bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, dia merupakan contoh paling sempurna dalam hal ketaatan terhadap Allah dan menjadi teladan tertinggi atas pengabdiannya. Ya Allah, limpahkan rahmat dan salam-Mu kepada Nabi Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya.
Demikianlah permulaan pesanku ini bagi kaum Muslimin sekalian, hendaklah kamu taklukkan ketakwaanmu sesuai dengan seharusnya kepada Allah dan jangan sampai meninggal dunia jika belum mendapatkan hidayah Islam. Sebab Allah Maha Tinggi di sorga menjelaskan melalui kitab suci-Nya tersebut: “Dan pegang teguhlah benang persaudaraan dari Allah semesta alam itu semua, lalu jangan bercacat-cacat atau pecah belah; ingatlah akan nikmat-Nya bagimu saat dulu kamu masih musuh-musuhan namun kemudian Dia meredam rasa benci itu antaramu sehingga akhirnya kamu dapat mengenalinya sebagai tali kasih sayang.”
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Kita baru saja menjalankan ibadah puasa pada Bulan Suci Ramadhan. Bulan ini merupakan waktu yang amat spesial dibandingkan dengan sepuluh bulan lainnya. Kecihatan khususnya tampak dalam dorongan untuk meningkatkan ibadah, di mana hal itu memberi imbalan pahala berkali-kali lipat bagi mereka yang sungguh-sungguh menyembah Tuhan. Setiap harinya, tiap jam-nya, serta setiap menit-nya bahkan sampai detik-nya benar-benar memiliki nilai besar. Mengapa demikian? Pasalnya, tidur para pemeluk juga dapat diterima sebagai bentuk ibadah, ketika seseorang diam sama seperti menghitung tasbih, dan segala tindakan baik hampir senantiasa setinggi 10 kali lebih banyak daripada apa yang dilakukan di luar masa Ramadhan.
Berdasarkan prioritas tersebut, tak mengherankan jika banyak orang dengan antusias melaksanakan ibadah Ramadhan semaksimal mungkin. Selain menahan lapar dan haus, mereka juga melakukan berbagai aktivitas di luar kewajiban seperti shalat lima waktu. Mereka pula ramai-ramai datang ke masjid, rajin membaca Al-Quran, ziarah doa, melaksanakan salat tarawih, menyediakan sajian buka puasa, serta melakukan beragam amalan sunnah yang lain.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Sungguh membahagiakan menyaksikan antusiasme positif menjelang datangnya bulan suci itu. Orang-orang terlihat semakin taat agama. Walaupun demikian, kita sadar bahwa rasa termotivasi ini belum tentu dirasakan semua kalangan. Namun, minimal dapat diamati adanya perbaikan perilaku setidaknya dalam jangka waktu satu bulan. Bulan Ramadhan memacu banyak insan melakukan introspeksi, meredam rutinitas kehidupan dunia yang padat, serta meninggalkan segala sesuatu negatif.
Semoga semua perbuatan itu dilakukan dengan keyakinan yang kuat agar bisa melenyapkan sisa-sisa dosa dari masa lalu, seperti telah disampaikan oleh Nabi:
Siapa yang berpuasa Ramadan dengan iman dan pengharapan akan pahala, dosa-dosanya di masa lalu akan dimaafkan.
Siapa saja yang menunaikan puasa bulan Ramadhan dengan keyakinan dan harapan untuk mendapatkan ganjaran dari Allah Ta’ala, maka dosa-dosa mereka sebelumnya akan dilipatgandakan penghapusannya. (Muttafqun ‘Alaih)
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Meningkatkan kualitas dan kerapian dalam beribadah merupakan sesuatu yang positif. Namun, kita harus teliti supaya semua usaha yang dilakukan untuk beribadah benar-benar memiliki nilai. Tidak ada guna jika amal ibadah hilang begitu saja tanpa manfaat. Benar, ibadah bukan selalu secara otomatis diakui sebagai ibadah. Ada beberapa risiko atau jerat yang bisa membuat seseorang tersesat dari niat mulia ini apabila ia kurang waspada.
Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali di dalam karyanya al-Kasyifuwat Tabyin menggolongkannya sebagai al-maghrurin (makhluk yang terkecoh). Menurut pemikiran Imam Al-Ghazali, kekeliruan ini muncul akibat seseorang yang rajin beribadah salah memposisikan tingkat urgensi tugas-tugas mereka.
Tipuan (ghurur) dapat terjadi misalkan saat seseorang tenggelam dalam berbagai amalan-amalan sunnah namun melupakan kewajiban-kewajiban penting.
Beliau antara lain menyebut:
Mereka meninggalkan kewajiban dan sibuk dengan sunnah, kadang-kadang bahkan terlalu fokus padanya sampai mereka justru keluar dari batas ke berlebihan dan penyalahgunaan.
Mereka (para ahli ibadah yang terkecoh) meninggalkan kewajiban-kewajiban dan justru sibuk dengan perkara-perkara sunat. Terkadang mereka tersesat dalam kegiatan tersebut sehingga mencapai tindakan berlebihan serta menjadi musuh satu sama lain.
Seseorang mungkin begitu termotivasi dalam melaksanakan shalat tahajjud di awal malam hingga sebelum fajar tiba. Namun, apabila hal ini menyebabkan mereka meninggalkan shalat subuh, sebenarnya mereka telah terjebak. Sementara itu, ada pula individu yang rajin membangunkan orang lain untuk sahur, tetapi jika metode yang dipergunakan justru meresahkan, misalnya dengan meletoff petasan, maka dia pun ikut tersesat. Karena pada dasarnya, ibadah mengingati waktu sahur tak boleh menjadi alibi bagi kita untuk mengabaikan tanggung jawab agar tidak menciptakan kekacauan atau gangguan kepada kedamaian orang lain.
Sebuah contoh lain dari keadaan serupa dapat ditemukan dalam situasi dimana orang-orang sibuk membahas masalah salat tarawih, berdebat tentang jumlah rak’at apa yang ideal, mencela mereka yang memiliki pandangan berbeda, sehingga menyebabkan konflik antara kelompok-kelompok dengan pendapat yang bertentangan. Meskipun demikian, melakukan salat tarawih merupakan suatu anjuran, sedangkan menjaga harmoni serta persatuan justru menjadi kewajiban. Salat tarawih sendiri termasuk tindakan positif. Akan tetapi sangat disayangkan jika sebuah amalan baik seperti itu malah merugikan tindakan-tindakan baik lainnya yang mungkin bahkan lebih penting.
Jamaah shalat Jumat hafidzakumullah,
Seseorang yang terpaku pada ritual ibadah bisa jadi telah tersandera oleh penampilan luarnya tanpa memperdulikan esensinya. Contohnya, ada individu yang rajin melakukan tadarus Al-Quran dan dapat menyelesaikannya dalam waktu satu hari penuh, bahkan mencicipi setiap nadanya. Tetapi bila pikirannya berkeliaran karena hal-hal dunia dan melupakan arti dari kata-kata tersebut, maka dia sebenarnya ditipu. Seperti pendapat Imam Al-Ghazali, inti dari membaca Al-Quran ialah menyelami pesonanya. Karena rasa manis Al-Quran datang dari pemahaman maknanya, tidak bergantung pada irama atau kualitas vokal si pembaca.
Masalah mengabaikan esensi hal-hal penting kerap kali muncul pada berbagai jenis ibadah. Seperti wudhu, sholat, sedekah, pendidikan agama, puasa, zakat, haji, umrah, serta partisipasi dalam kegiatan pengajian dan sebagainya. Terkadang perhatian terfokus pada segi-segi teknikal tersebut justru menjauhkan orang dari memikirkan maksud utamanya atau elemen-elemen yang lebih signifikan. Apabila ditambah dengan atribut-atribut negatif seperti pamer, merasa superior, mencari pujian, maka kondisi menjadi semakin rumit.
Pembahasan ini bukan bermaksud menjunjung remeh ibadah-ibadah sunnah sebagai sesuatu yang kurang penting, ataupun menafikan kebutuhan perhatian terhadap hal-hal teknis sepenuhnya. Penjelasan tentang kesombongan tersebut bertujuan untuk memberi pengingat agar kita tidak tersesat dengan memprioritaskan masalah-masalah pendukung hingga melupakan aspek-aspek utama; praktik ibadah sunnah seharusnya tak menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban dalam beribadah. Idealnya, setiap orang dapat melakukan kedua jenis ibadah tersebut dengan sempurna dan optimal.
Semoga penjelasan ini dapat membantu memperbaiki ibadah-individu dan juga jemaah yang diketuai oleh khatib agar kami semua dapat meningkatkan iman dan ketakwaan setelah bulan Ramadhan. Amin Ya Rabbal ‘alamîn. Wallahu a’lam bisshawab.
Allah memberkati kita semua dalam Al-Qur’an yang agung ini dan beri manfaat kepada saya serta kalian dari segala ayat dan pengingat kebijaksanaan di dalamnya. Semoga Allah menerima pembacaannya daripada kami dan kamu. Dia adalah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Dan apa yang akan aku ucapkan selanjutnya, sungguh-sungguh aku memohon ampun kepada Allah Yang Maha Besar; karena Dialah Pemaaf yang Penyayang.
Khutbah II
Alhamdulillah atas karunia-Nya dan syukur kepada Allah karena ridho-Nya serta penghargaan-Nya. Saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, Dia sendiri tanpa partner. Dan saya juga bersaksi bahawa Nabi Muhammad adalah hamba dan utusannya yang memanggil kita untuk meraih Ridha-Nya. Ya Allah, limpahkan shalawat pada Nabi kami Muhammad beserta keluarganya dan para sahabatnya dengan banyak salam.
Wahai manusia semua, bertakwalah kepada Allah dalam segala perintah-Nya dan hentilah dari melakukan apa yang dilarang-Nya. Ingatlah bahwa Allah telah memerintahkan kalian dengan sesuatu yang Dia mulakan pada diriNya sendiri kemudian dilanjutkan melalui malaikat-malaikat suci-Nya. Firman Tuhan Yang Maha Tinggi: “Sesungguhnya Allah beserta para malaikat-Nya memberikan salam kepada Nabi Muhammad.” Wahai orang-orang yang beriman, bertasurlah kepadanya serta sampaikan salaman sejati. Ya Tuhanku, limpahkan rahmat atas kami seperti Engkau menimpakan rahmat di atas Sayyidina Muhammad dan keluarganya, juga nabi-nabimu dan rasul-rasulmu, bersama-sama para malaikat terdekat-Mu. Ampunilah khulafaerrasyideen Abu Bakar, Umar, Usman, Ali, seluruh sahabat-sahabat, pengikut-pengikut mereka, dan generasi setelah mereka karena kerohanian hidup sampai hari pembayaran hutang-hutang kita ini. Berilah ampunan pula kepada kami bersamaan dengan mereka oleh RahmatMu wahai Penyayang tertinggi!
Ya Allah, ampunilah seluruh kaum mukmin laki-laki dan perempuan, serta semua kaum Muslim yang hidup maupun meninggal dunia. Ya Allah, tegakkanlah agama Islam dan para pemelagnya, rendahkanlah syirik berserta penganut-punan, bantulah hamba-hambamu yang beribadah dengan tulus ikhlas, dukakan mereka yang menentang kaum Muslimin, binasakan musuh-musuh kepercayaanmu, tinggikanlah kalimat-Mu sampai hari pengadilan.
Ya Allah, tolakkalah segala macam cobaan seperti penyakit, guncangan tanah, ujian baik itu terbuka atau tertutup dari negeri kita khusunya Indoneisa secara umum, juga bagi negara-negara lain yang mayoritas penduduknya Muslim. Tuhan kami, anugerahi lah kami di alam ini kebaikan-kebaikan, dan jauhilah siksa neraka pada akhirat nanti.
Tuhan Kami, sesungguhnya telah merugikan diriku sendiri jika tidak digapail oleh rahmatMu dan Engkau ampuni untukku maka pastilah aku termasuk orang-orang yang rugi.
Hamba-hamba Allah! Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kita agar melakukan ketetapan adil, melaksanaan kemurahan hati, memberi hak kepada keluarga dekat, sekaligus dilarang mengucap perkata-perkata kasar, buruk, dan zalim; Dia menyampaikan pesannya supaya kamu dapat ingatan akan hal tersebut. Ingatkallah kepada Yang Maha Agung yaitu Allah, Ia pun akan mengingati Anda, Syukurlah atas nikmat-Nya sehingga tambahan rezeki bagimu, dan sembahyang kepada Allah adalah lebih besar manfaatnya.
(*)
Baca artikel BeraniUsaha.comlainnya di
Google News


