Home / transportation / Jalur Pacet-Cangar Tutup Sementara Akibat Longsor Berbahaya

Jalur Pacet-Cangar Tutup Sementara Akibat Longsor Berbahaya



–Pengendara yang menggunakan rute Pacet-Cangar diminta untuk menemukan jalur Alternatif selama beberapa waktu. Hal ini dikarenakan keputusan penutupan sementara dari bagian jalan itu akan berlangsung cukup lama, dengan perkiraan masa tutup sekitar satu bulan-.

Penutupan sementara jalan alternatif dari Mojokerto ke Kota Batu tersebut dijalankan sampai proses konstruksi benteng tanah rampung. Hal ini sebagai dampak langsung dari peristiwa longsoran tanah yang menyebabkan 10 jiwa tewas pada hari Kamis (3/4) kemarin.

Kepala Dinas PU Bina Marga Jawa Timur Edy Tambeng menyatakan bahwa proses membersihkan materi longsoran pada rute Pacet-Cangar belum selesai total. Di samping mengeluarkan kendaraan yang menjadi korban, tim gabungan pun berencana memperkokoh tebing agar bisa mencegah kemungkinan longsor lagi.

“Waktu estimasi penyelesaian adalah satu bulan. Oleh karena itu, akses akan ditutup sementara,” ujar Edy Tambeng.

Di samping itu, sampai sekarang, area tanah yang mengalami longsor pada rute Pacet–Cangar tetap dalam status zona merah, artinya masih rentan terhadap kemungkinan longsor lebih lanjut. “Jenis tanah di tempat ini adalah regosol,” jelas Tambeng, sehingga sulit untuk memperkirakannya.

Dia menyebutkan bahwa apabila keadaan lahan di tempat tersebut sudah dipulihkan menjadi seperti aslinya, Dinas PU Bina Marga akan langsung mengomunikasikan hal itu bersama BPBD Jatim guna memulai pembukaan jalan dari Cangar menuju Pacet.

Di luar rute Cangar–Pacet, Pemerintah Provinsi (Pemprov), lewat Badan Pertamanan Hutan (BPH) Jawa Timur, pun telah mengakhiri operasi lima tempat tujuan wisata dalam area Tahura Raden Soerjo. Tempat-tempat tersebut adalah: Tirta Mandi Air Panas Cangar, Coban Watu Ondo, Coban Watu Lumpur, serta Lahan Pandangan Petung Sewu. Penutupan berlaku mulai tanggal 3 April.

Ahmad Wahyudi dari UPT Taman Hutan Raya Raden Soerjo Dishut Jatim menyatakan bahwa mereka belum dapat menentukan durasi tutupnya area tersebut. Hal ini disebabkan oleh faktor cuaca serta keadaan tanah dalam kawasan hutan yang terus berubah-ubah.

“Manajemen akan mengevaluasi kondisi selama beberapa periode mendatang,” jelas Ahmad Wahyudi.

Wahyudi menyebutkan bahwa penutupan tempat-tempat pariwisata tersebut adalah bagian dari langkah-langkah untuk mengurangi dampak bencana. Pihak pemerintahan berharap tidak akan ada korban lagi.

Oleh karena itu, kami menginginkan agar baik masyarakat maupun para pemilik bisnis dapat memahami kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah,” ungkap Ahmad Wahyudi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *