Home / tragedies / Kronologi Tragedi: Siswa SMA 10 Pontianak Tewas Tenggelam di Riam Angan Landak, Mimpi Sibungsu Menjadi Polisi

Kronologi Tragedi: Siswa SMA 10 Pontianak Tewas Tenggelam di Riam Angan Landak, Mimpi Sibungsu Menjadi Polisi


BeraniUsaha.com, PONTIANAK – Duka mendalam melanda rumah duka almarhum Fadli Muhammad Adila, yang menjadi korban tenggelam di objek wisata Riam Angan Tembawang, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak. Rabu, 9 April 2025.

Wali dari para korban mengisahkan urutan peristiwa meninggalkan Sibuah Hati saat mereka berencana merayakan momen liburan lebaran di Ngabang.

Saat Tribun Pontianak mengunjungi rumah di Jalan Purnama 2, Gang Eka Putra, Kecamatan Pontianak Selatan, Kota Pontianak, Kalimantan Barat, atmosfer kesedihan begitu kental.

Orang tuanya bahkan sesekali nampak menepuk air mata yang tanpa disadarinya mengalir saat ia merenung tentang kenangan dari almarhum Fadli Muhammad Adila yang kini telah berusia 17 tahun.

Orangtua Dani dan Eka secara bergantian menceritakan kenangan indah dengan remaja siswa kelas 2 SMA tersebut.

Awalnya mereka berencana untuk bersilaturahmi ke rumah kerabat di Ngabang, lalu pada hari selanjutnya baru akan pergi ke destinasi wisata.

“Pada awalnya, kunjungan persaudaraan meliputi seorang anggota keluarga yang berasal dari Ngabang. Awalnya mereka merencanakan untuk melakukan perayaan Lebaran terlebih dahulu dan memulai perjalanan pada hari Minggu sore dengan menginap disana, setelah itu baru kami menuju ke lokasi air terjun pada Senin siang.” katanya sebagai ucapan atas nama orang tua Almarhum.

Keluarga besar yang pergi ke arah riam terlihat sangat padat dengan mengendarai 5 mobil.

“Air terjun itu tidak begitu mengalir dengan keras dan tampak cukup sederhana, bagian dari situ airnya agak dangkal namun ada juga spot tertentu yang lumayan dalam; di sinilah putriku hilang.” katanya.

Orang tua dari yang meninggal meyakini ada puting beliung air di bagian bawah lokasi itu dan mereka menyatakan jika yang meninggal tidak terlalu pandai berenang.

Dani menyebutkan bahwa orang yang telah meninggal baru saja makan bersamanya sebelum pergi bermain dengan sepupunya, menciptakan suasana seperti ada banyak anggota keluarga di sekitar mereka. Namun, ternyata sisa keluarganya tengah berenang di area yang agak dangal.

Orang tua yang telah meninggalnya menyebutkan bahwa tak ada supervisi dari pihak manajemen dan tanda peringatan berbahaya juga. Warga setempat pun mendeskripsikan hal ini sebagai insiden kelima mereka.

Meninggal dunia tersebut tersandung ke bagian sungai yang dalam, pada awalnya pernah muncul di permukaan dan meminta bantuan.

Namun, orang-orang menganggapnya sedang bercanda dan gagal menyadarinya bahwa dirinya sungguh-sungguh tidak pandai berenang.

Setelah itu, korban tidak kelihatan sama sekali dalam kurun waktu kira-kira 10 sampai 15 menit.

Ini pertama kali dia benar-benar tenggelam lalu muncul dan meminta bantuan kepada orang lain, tetapi mereka mengira dia hanya main-main sehingga tak ada yang peduli. Mereka pun enggan membantu karena tidak percaya bahwa dia sebenarnya tidak bisa berenang.

“Kemudian lebah tersebut kembali masuk ke dalam sarang. Setelah disimpan di sana, ternyata tak tampak selama 10 hingga 15 menit. Lalu mereka mencarinya bersama-sama.” jelas orang tua Almarhum.

Saat pertama kali ditemui, mayat tersebut telah berbaring di dasar sungai dengan kulit wajah dan kuku-kukunya mengeluarkan warna biru, pupils-nya melebar, dan busa muncul dari mulutnya.

Meninggal dunia tersebut sempat dibawa ke puskesmas terdekat dan dilakukan CPR, pemberian oksigen, serta injeksi stimulan jantung; meski demikian dokter menyampaikan bahwa pasien telah tanpa respons.

orangtua para korban pun menceritakan tentang figura sang almarhum yang adalah putra bungsu dari dua bersaudara, di mana kakak perempuan nya berusia 22 tahun.

Dia memiliki tubuh tinggi besar dan merupakan siswa kelas dua di SMA 10 Pontianak yang berada di Jalan Purnama, dengan usia hanya 17 tahun.

Dia adalah anak yang baik, penurut, jarang berbicara tetapi sangat dekat dengan kedua orangtuanya.

Sering kali dia mengikuti sesi latihan voli serta berenang walaupun kemampuan berennagnnya belum begitu handal, sebab ia memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi.

Tiap harinya ia berolahraga seperti lari, skip rope, dan senam. Ia sering mengunjungi rumah sahabatnya atau ikut les bersama.

Sehari-hari sebelum peristiwa itu terjadi, kedua orang tua menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak biasa pada korban.

Fadli tampak lebih sensitif.

Jika ditanyai tentang masalah makanan, responsnya singkat dan cukup peka, cenderung mudah tersulut emosinya.

Eka berkomentar bahwa melihat milik-miliknya saat ini membuatnya merasa seolah-olah dirinya masih berada di sana.

“Ibaratnya kemarin saja dia mengetuk pintu kamarku pukul tiga dini hari, menyadarkan saya untuk sahur,” kata sang ibu.

“Alarm berbunyi saat Ramadan dan selama sebulan tersebut ia membangunkanku pukul 03.00. Dia pasti telah terjaga lebih awal dari saya, bukan seperti anak-anak lain yang biasanya baru bangun pada pukul 03.00. Ia mengetuk pintu kamarku untuk mengajakku duduk bersamanya, lalu membantuku memasak,” ungkap sang ibu dengan nada pilu.

Mereka pun menyebutkan bahwa lokasi wisata itu kemungkinan masih terbuka, namun pihak manajemen diberitahuakan bakal bertamu pada hari Jumat guna berjumpa dan bersilaturahmi.

– Kunjungi Berita Paling Baru lainnya disini

GOOGLE NEWS

– Terima Kabar Populer Lewat Saluran

WhatsApp


!!!Membaca Adalah Latihan Untuk Otak Sebagaimana Olahraga Adalah Latihan Untuk Tubuh!!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *